SMAN 9 Mataram Cetak Prestasi, Siap Bersaing di Tingkat Nasional

Kepala SMAN 9 Mataram, Nengah Istiqomah. (istimewa)

Sasambotimes, Mataram- Di tengah keterbatasan fasilitas dan statusnya sebagai sekolah yang relatif muda, SMA Negeri 9 Mataram terus menorehkan prestasi membanggakan. Sekolah yang berdiri tujuh tahun lalu ini berhasil mengantarkan sejumlah siswanya lolos seleksi perguruan tinggi negeri dan berkiprah dalam agenda nasional hingga mendapat kesempatan menginjakkan kaki di Istana Negara.

Kepala SMAN 9 Mataram, Nengah Istiqomah, M.Pd., mengakui sekolah yang dipimpinnya masih menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana seni. “Fasilitas seni kami bisa dikatakan sangat minim,” ujarnya saat ditemui awak media. Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat siswa dan guru untuk terus mengembangkan potensi di bidang seni dan budaya.

​Nengah mengungkapkan dinamika yang terjadi setiap akhir pekan di bawah pengawalan wakasek Kesiswaan Saiful Hamdani, sekolah ini menghidupkan “Sabtu Budaya” sebuah panggung tempat ruang kelas menjelma menjadi teater kebudayaan. Anak-anak bersahabat dengan keterbatasan mereka berpatungan, memboyong pakaian adat Lombok, Bali, hingga merajut sendiri kostum Barong dan Hanoman dari rumah.

​Nengah kemudian merumuskan berbagai praktik pendidikan tersebut ke dalam sebuah metode pembelajaran yang dibukukan dengan judul Gerakan ELIDA (Gerakan Literasi Budaya). Melalui program ini, siswa tidak hanya dituntut tampil dalam kegiatan seni dan budaya, tetapi juga diwajibkan memperkuat kemampuan literasi dengan membaca referensi, melakukan riset sejarah, serta membangun kerja sama tim sebelum tampil di atas panggung.

Pendekatan tersebut berdampak signifikan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran di SMA Negeri 9 Mataram. Berdasarkan Rapor Pendidikan sekolah, capaian literasi tercatat mencapai 95,1 persen, sementara numerasi berada di angka 91,1 persen. Peningkatan tersebut menjadi indikator keberhasilan sekolah dalam membangun ekosistem pendidikan yang kondusif, aman, dan berorientasi pada pengembangan potensi siswa.

​Sadar bahwa era digitalisasi membutuhkan siasat taktis, sekolah mengambil langkah agresif. Pihak manajemen menjemput bola dengan menggandeng Rumah Belajar (RBR) Balai Bahasa untuk membedah anatomi soal Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Hasilnya konkret. Tahun ini, lebih dari 100 siswa SMAN 9 Mataram dipastikan menembus Perguruan Tinggi Negeri. Sebanyak 64 anak mengamankan kursi di Universitas Mataram, sementara sisanya tersebar di kampus-kampus elite sekelas Universitas Indonesia, Universitas Brawijaya, hingga Universitas Udayana.

​Lompatan ini sekaligus menegaskan bahwa sekolah berakreditasi B pun mampu memproduksi lulusan berspesifikasi tinggi. Dinamika tersebut juga yang mengantarkan SMAN 9 Mataram terpilih sebagai Sekolah Penggerak Angkatan ke-3, bersanding dengan nama-nama besar yang jauh lebih senior. Bahkan di lini pengajar, mereka mencetak sejarah lewat Pak Ardi, Guru Penggerak Angkatan Pertama di Mataram yang performanya sempat ditinjau oleh Kemendikbud.

Prestasi SMA Negeri 9 Mataram terus menunjukkan tren positif hingga menembus level nasional. Tim Paskibra sekolah tersebut berhasil meraih Juara I Lomba Kreasi Baris-Berbaris (LKBB) yang diselenggarakan MPR RI tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Atas capaian itu, tim yang beranggotakan 15 siswa tersebut dipersiapkan untuk mengikuti kompetisi di tingkat nasional di Jakarta.

Di bidang kepaskibrakaan, SMA Negeri 9 Mataram juga kembali mencatatkan prestasi membanggakan. Salah satu siswanya, Gilang, tengah mengikuti tahapan seleksi calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat nasional. Capaian tersebut melanjutkan jejak prestasi sekolah setelah pada tahun sebelumnya salah satu siswanya berhasil lolos sebagai anggota Gita Bahana Nusantara yang tampil dalam peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di hadapan Presiden.

Tidak hanya unggul dalam bidang akademik dan ekstrakurikuler, SMA Negeri 9 Mataram juga memperoleh pengakuan di bidang perlindungan anak. Sekolah ini ditetapkan sebagai satu-satunya SMA di Nusa Tenggara Barat yang berhasil meraih predikat Sekolah Ramah Anak (SRA) setelah melalui proses verifikasi dan evaluasi yang ketat oleh kementerian terkait.

Meski demikian, sejumlah tantangan infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah bagi sekolah tersebut. Hingga saat ini, SMA Negeri 9 Mataram masih menghadapi keterbatasan sarana pendidikan, mulai dari belum tersedianya laboratorium komputer yang memadai, laboratorium IPA yang representatif, hingga perpustakaan berstandar nasional.

Kondisi tersebut turut memengaruhi status akreditasi sekolah yang saat ini masih berada pada peringkat B. Namun, capaian prestasi siswa di tingkat regional maupun nasional menunjukkan bahwa keterbatasan fasilitas tidak menghalangi kualitas sumber daya manusia dan proses pendidikan yang terus berkembang di SMA Negeri 9 Mataram.

​Nengah mengungkapkan sejak sekolah menyetujui relokasi gedung beberapa tahun lalu, terdapat komitmen terkait pengembangan dan pemenuhan fasilitas pendidikan yang hingga kini masih dinantikan. Karena itu, pihak sekolah berharap dukungan pemerintah dapat diwujudkan melalui penyediaan infrastruktur yang lebih memadai.

“Kami siap membawa nama baik Kota Mataram dan Nusa Tenggara Barat di tingkat nasional. Namun, kami juga berharap para siswa mendapatkan hak yang sama berupa fasilitas pendidikan yang layak dan setara untuk menunjang proses belajar serta pengembangan prestasi mereka,”tutupnya. (red)

Tutup