GAKADA Gelar Dialog Publik Bahas Dugaan Salah Diagnosis

GAKADA Bidom akan menggelar dialog publik menghadirkan praktisi kesehatan, legislator, dan aktivis untuk membahas dugaan salah diagnosis. Forum ini digelar sebagai ruang diskusi guna mendorong peningkatan kualitas layanan kesehatan di NTB.

Sasambotimes, Mataram- Kepedulian terhadap kualitas pelayanan kesehatan di Nusa Tenggara Barat (NTB) mendorong Gabungan Kawula Muda (GAKADA- Bidom) menggelar dialog publik bertajuk “Diagnosis Berbeda, Nyawa Dipertaruhkan: Tinjauan Ilmiah atas Dugaan Ketidaksesuaian Diagnosis pada Pasien Rujukan Bima-Dompu di RSUD Provinsi NTB.” Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Senin malam, 3 Agustus 2026, bertempat di Kedai Hangout, Kota Mataram.

Dialog publik ini digagas sebagai ruang diskusi ilmiah yang mempertemukan unsur pemerintah, legislatif, akademisi, tenaga kesehatan, relawan, organisasi masyarakat, mahasiswa, dan insan pers untuk membahas berbagai persoalan pelayanan kesehatan secara objektif. Forum tersebut diharapkan mampu melahirkan gagasan serta rekomendasi yang konstruktif bagi peningkatan mutu pelayanan kesehatan di NTB.

Ketua Umum GAKADA BIDOM Arif Kurniadin, mengatakan penyelenggaraan dialog merupakan respons atas berbagai aspirasi masyarakat yang menginginkan adanya evaluasi terhadap sistem pelayanan kesehatan, khususnya menyangkut dugaan ketidaksesuaian diagnosis yang dialami sejumlah pasien asal Bima dan Dompu.

Menurutnya, persoalan pelayanan kesehatan perlu dibahas secara terbuka melalui pendekatan ilmiah agar menghasilkan solusi yang dapat diterima semua pihak. Karena itu, dialog ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan ataupun menghakimi institusi maupun individu tertentu.

“Dialog ini bukan untuk menyudutkan pihak tertentu, melainkan menjadi ruang ilmiah dan konstruktif dalam mencari solusi bersama demi peningkatan mutu pelayanan kesehatan di Provinsi NTB, khususnya bagi masyarakat Bima dan Dompu,”ungkapnya.

Untuk memberikan perspektif yang berimbang, panitia menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, yakni Direktur RSUD Provinsi NTB drg. H. Asrul Sani, M.Kes., Anggota Komisi V DPRD NTB Nadirah, S.E., Akt., Akademisi Universitas Bima (UNBIM) Dr. Alfisahrin, M.Si., serta Relawan Kesehatan Kaharrudin Abbad. Kehadiran para narasumber diharapkan dapat memperkaya pembahasan melalui sudut pandang kebijakan, akademik, maupun praktik pelayanan kesehatan.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal GAKADA BIDOM, Adnan, mengatakan dialog publik ini juga menjadi wadah bagi masyarakat untuk memperoleh penjelasan langsung dari para narasumber sekaligus menyampaikan aspirasi secara santun, objektif, dan berdasarkan fakta.

Menurut Adnan, pelayanan kesehatan merupakan hak dasar setiap warga negara. Oleh sebab itu, keterlibatan masyarakat dalam memberikan masukan dan evaluasi yang konstruktif menjadi bagian penting dalam mendorong peningkatan kualitas layanan kesehatan yang semakin profesional dan berorientasi pada keselamatan pasien.

Panitia mengundang mahasiswa, organisasi kepemudaan, organisasi kemasyarakatan, tenaga kesehatan, akademisi, tokoh masyarakat, insan pers, serta masyarakat umum untuk menghadiri dialog publik tersebut.

Kehadiran berbagai elemen masyarakat diharapkan dapat memperkaya pembahasan sekaligus melahirkan masukan yang objektif bagi peningkatan pelayanan kesehatan di Nusa Tenggara Barat.

Melalui forum ini, GAKADA BIDOM berharap lahir rekomendasi yang dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Pemerintah Provinsi NTB, rumah sakit, dan seluruh pemangku kepentingan dalam memperkuat sistem pelayanan kesehatan. Rekomendasi tersebut diharapkan mendorong terwujudnya layanan kesehatan yang lebih berkualitas, transparan, profesional, akuntabel, dan mengutamakan keselamatan pasien.

Selain menjadi ruang bertukar gagasan, dialog publik ini juga diharapkan memperkuat sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, organisasi masyarakat, dan publik dalam membangun sistem pelayanan kesehatan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat. GAKADA BIDOM menilai kolaborasi seluruh pihak menjadi langkah penting untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang semakin baik, berkeadilan, dan berorientasi pada kepentingan pasien. (red)

 

 

Tutup